BEKASI – Harapan warga Perumahan Green Lavender dan Nebraska untuk hidup tenang di awal tahun 2026 pupus. Hingga Jumat (23/1/2026), ribuan rumah di Desa Sukamekar, Kabupaten Bekasi, masih terendam banjir hingga kedalaman 2 meter. Luapan Kali Cikarang Bekasi Laut (CBL) yang tak terbendung memaksa proses evakuasi dramatis terhadap kelompok rentan, mulai dari bayi hingga lansia.
Evakuasi Menggunakan Perahu Seadanya
Sekretaris Desa Sukamekar, Taufik, membagikan momen emosional saat tim di lapangan harus menggendong balita dan membantu ibu-ibu menaiki perahu darurat untuk keluar dari zona bahaya di Perumahan Nebraska.
“Saat ini ketinggian air masih tertahan di 150 cm karena luapan Kali CBL masih tinggi. Kemarin bahkan sempat mencapai 200 cm,” ujar Taufik dengan nada khawatir.
Infrastruktur “Tanggul Tanah Liat” Jadi Sorotan
Ketua RT 02 Green Lavender, Hendro Fernando, blak-blakan mengenai penyebab banjir yang terus berulang. Menurutnya, sistem drainase yang buruk diperparah dengan kondisi tanggul yang hanya berupa tumpukan tanah liat.
“Tanggul tidak kompatibel menahan debit air kiriman. Akhirnya jebol, dan air Kali CBL langsung lari ke perumahan kami,” ungkap Hendro.
Bencana ini melumpuhkan aktivitas total. Sebanyak 462 kepala keluarga di bloknya kini mengungsi di bangunan-bangunan kosong milik pengembang. Mirisnya, hingga hari keempat, warga melaporkan belum ada tenda resmi dari BNPB yang berdiri di lokasi.
Krisis Logistik: “Kami Sudah Sangat Lelah”
Jeritan minta tolong mulai menggema dari pihak pemerintah desa. Stok makanan siap saji, obat-obatan, dan kebutuhan bayi seperti popok (pampers) dilaporkan sangat menipis bahkan nihil di beberapa titik pengungsian.
“Belum ada bantuan masuk. Tolong kirim bantuan, kami di pemerintah desa sudah sangat lelah. Kami butuh makanan siap saji dan mi instan segera,” tegas Taufik.
Komitmen Normalisasi dan Kunjungan Wapres
Kondisi kritis di Bekasi ini telah menarik perhatian pemerintah pusat. Plt Bupati Bekasi, Asep Surya Atmaja, yang sempat mendampingi Wakil Presiden RI Gibran Rakabuming Raka meninjau lokasi, menegaskan bahwa normalisasi Kali CBL adalah harga mati.
“Kalau tidak dinormalisasi, ya akan begini terus. Selain normalisasi, kami juga mengkaji pembuatan sodetan agar sungai-sungai kecil tidak ‘mengantre’ masuk ke CBL,” jelas Asep.
Meski rencana jangka panjang telah disusun, saat ini warga hanya bisa berharap air segera surut dan bantuan logistik segera tiba di tangan mereka. [bisot]
Foto: ANTARA/Pradita Kurniawan Syah.
