Oleh: Danu Ubaidillah (Jurnalis Indonesia)
Ada sebuah kesunyian yang dulu akrab di wilayah utara Babelan—kesunyian sawah yang menghampar, angin yang berbisik di sela padi, dan tanah yang dengan setia menyerap hujan seperti spons raksasa alam. Di sanalah air turun dari langit bukan sebagai musuh, melainkan sebagai tamu yang disambut dan dipeluk bumi.
Kini, kesunyian itu kian jarang terdengar. Yang tumbuh bukan lagi padi, melainkan deretan beton, dinding, dan atap perumahan yang rapat, menutup pori-pori tanah. Hujan yang dulu diserap, kini dipantulkan. Air yang dulu mengendap, kini berlari. Dan larinya bukan ke sawah, melainkan ke rumah warga, ke jalanan, ke sudut-sudut permukiman yang akhirnya menjadi kolam darurat setiap musim hujan tiba.
Seandainya wilayah utara Babelan masih banyak sawah, mungkin cerita banjir parah tak akan sesering ini kita dengar. Sawah bukan sekadar bentang hijau yang indah di lensa kamera, tetapi infrastruktur alami yang bekerja tanpa mesin dan tanpa anggaran. Ia menahan, menyaring, dan menyimpan air. Ia memberi waktu bagi sungai untuk bernapas dan bagi tanah untuk meneguk hujan perlahan.
Pembangunan tentu bukan dosa. Perumahan bukan kesalahan. Namun ketika beton datang tanpa perhitungan daya dukung lingkungan, ketika ruang resapan dipersempit tanpa kompensasi ekologis, maka bencana bukan lagi sekadar takdir alam—ia menjadi konsekuensi pilihan.
Foto ini merekam lebih dari sekadar pemandangan. Ia merekam sebuah kemungkinan: tentang Babelan yang pernah, dan mungkin masih bisa, berdamai dengan hujan. Tentang hamparan hijau yang bukan hanya memberi pangan, tetapi juga perlindungan. Tentang masa depan yang seharusnya dibangun bukan hanya dengan semen dan besi, tetapi juga dengan kebijaksanaan menjaga ruang bagi alam untuk tetap bekerja.
Banjir bukan sekadar air yang meluap. Ia adalah pesan. Pesan bahwa tanah butuh ruang untuk bernapas, dan manusia perlu belajar kembali mendengar. [DN]
