
MAKASSAR – Suasana di Aula Sipakatau, Balai Kota Makassar, bergemuruh oleh semangat intelektual saat Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Korkom Tamalate Cabang Makassar membuka Intermediate Training (LK II) Tingkat Nasional. Perhelatan bertema “Simposium HMI” ini mempertemukan 80 kader pilihan dari berbagai penjuru Indonesia untuk menempa nalar kritis. Ketua Umum HMI Cabang Makassar, Sarah Agus Salim, menegaskan bahwa di era digital, kader harus menjadi penjaga nalar kritis dan motor penggerak perubahan bangsa.
Memasuki sesi materi inti di Wisma Latobang, Makassar, dinamika diskusi semakin tajam saat menghadirkan narasumber dari Kanwil DJBC Sulawesi Bagian Selatan. Kepala Seksi Bimbingan Kepatuhan dan Hubungan Masyarakat, Cahya Nugraha, membedah secara tuntas peran vital Bea Cukai dalam menjaga stabilitas ekonomi nasional. Cahya tidak hanya memaparkan data teknis, tetapi juga membangun narasi kuat tentang bagaimana setiap rupiah dari sektor kepabeanan mengalir menjadi nadi pembangunan.
Cahya Nugraha: Cukai adalah Motor Pembangunan
Dalam paparannya, Cahya Nugraha menjelaskan bahwa penerimaan negara dari bea masuk, bea keluar, dan cukai memiliki fungsi krusial dalam membiayai fasilitas publik. Ia merinci bahwa dana tersebut bertransformasi menjadi infrastruktur, layanan kesehatan, hingga subsidi pendidikan yang dirasakan masyarakat luas. Cahya menekankan bahwa mahasiswa sebagai kelompok intelektual harus memahami mekanisme fiskal ini agar mampu mengawal kebijakan negara secara objektif.
Lebih lanjut, Cahya menyoroti berbagai fasilitas kepabeanan yang dirancang untuk memperkuat daya saing industri dalam negeri. Bea Cukai aktif memberikan dukungan bagi pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) melalui insentif ekspor dan kemudahan prosedur. Langkah ini bertujuan agar produk lokal mampu menembus pasar internasional, yang pada akhirnya menggerakkan roda ekonomi dari akar rumput.

Edukasi Gempur Rokok Ilegal
Satu poin krusial yang ditekankan Cahya adalah ancaman rokok ilegal. Ia membekali peserta dengan kemampuan mengidentifikasi produk ilegal, mulai dari pita cukai palsu hingga produk tanpa pita cukai. Cahya menegaskan bahwa peredaran rokok ilegal secara langsung memangkas potensi penerimaan negara dan merusak iklim usaha yang sehat.
Ia mengajak kader HMI menjadi agen informasi yang mengedukasi masyarakat untuk hanya mengonsumsi produk legal. “Kesadaran generasi muda dalam mendukung penerimaan negara adalah bentuk pengabdian nyata bagi kesejahteraan umat,” tegas Cahya. Melalui pilihan konsumsi yang cerdas, mahasiswa turut membantu memastikan keberlangsungan program jaminan sosial pemerintah.
Sinergi untuk Indonesia Emas
Ketua Umum HMI Korkom Tamalate, Muhammad Hendra, mengapresiasi kehadiran Bea Cukai yang memberikan dimensi baru dalam kurikulum perkaderan. Kehadiran Cahya Nugraha membuktikan bahwa sinergi antara instansi pemerintah dan organisasi kepemudaan sangat efektif dalam membangun pemahaman kebijakan publik yang holistik.
Meskipun menghadapi berbagai dinamika persiapan, Ketua Panitia Rusdiawan memastikan kegiatan berjalan solid berkat dukungan alumni. Penutupan sesi materi ini meninggalkan optimisme besar bahwa kader HMI akan membawa pulang pemahaman strategis mengenai kedaulatan ekonomi negara menuju Indonesia Emas 2045. [bisot]
