BABELAN,BEKASI — Langit perlahan berubah biru keabu-abuan ketika adzan Magrib bersiap berkumandang. Pantulan cahaya lampu-lampu taman bergetar di permukaan danau yang tenang. Di tepian City Beach Panjibuwono City, Babelan, ratusan warga sudah menggelar tikar, menata takjil, dan menanti detik-detik berbuka dengan wajah penuh harap, Minggu (1/3/26).
Pemandangan sore itu seperti lukisan hidup. Di seberang danau, bangunan ruko bernuansa putih dengan kubah biru berdiri megah, memantulkan cahaya senja. Lampu taman berjajar rapi, menciptakan garis cahaya yang menari di atas air. Angin semilir membawa aroma jajanan kaki lima, gorengan hangat, dan es buah yang berjejer di lapak-lapak dadakan.
Tak hanya keluarga, para remaja, komunitas, hingga pasangan muda turut meramaikan suasana. Mereka duduk berkelompok di atas tikar warna-warni, sebagian mengabadikan momen dengan ponsel, sebagian lagi khusyuk berdoa. Suasana yang awalnya riuh perlahan berubah hening saat adzan menggema—detik sakral yang memecah penantian panjang seharian.
Sensasi yang Menggetarkan Rasa
Berbuka di tepi danau ini bukan sekadar soal melepas dahaga. Ada sensasi yang berbeda—perpaduan antara panorama air yang luas, gemerlap lampu, dan kebersamaan yang terasa begitu intim. Anak-anak berlarian kecil di tepian, pedagang tersenyum menawarkan dagangan, sementara para orang tua bercengkerama dengan penuh kehangatan.
Gemuruh percakapan, tawa yang pecah bersahutan, hingga suara plastik takjil yang dibuka bersamaan menciptakan harmoni khas Ramadan. Pantulan cahaya lampu di permukaan air seolah menjadi saksi bahwa kebahagiaan sederhana bisa tumbuh dari tempat yang tak terduga.
“Setiap Ramadan selalu ramai. Sensasinya beda, lebih hidup, lebih hangat,” ujar salah satu pengunjung yang datang bersama keluarganya.
Magnet Baru Wisata Ramadan
City Beach Panjibuwono City kini menjelma menjadi magnet wisata Ramadan di kawasan Babelan. Bukan hanya karena keindahan danau dan tata ruangnya yang estetik, tetapi juga karena suasana kebersamaan yang sulit ditemukan di tempat lain.
Ketika malam mulai turun, cahaya lampu semakin terang memantul di air, menghadirkan nuansa romantis sekaligus syahdu. Sebagian warga melanjutkan dengan salat berjamaah, sebagian lagi menikmati malam dengan santai, berbincang, atau sekadar menatap permukaan danau yang tenang.
Ramadan di tepi danau ini bukan hanya tentang berbuka puasa. Ia adalah tentang rasa—tentang kebersamaan yang menghangatkan, tentang cahaya yang menari di air, dan tentang senja yang selalu berhasil membuat siapa pun jatuh hati.
City Beach Panjibuwono City, sore itu, bukan sekadar ruang publik. Ia menjadi panggung kebahagiaan yang sederhana, namun begitu membekas.
Penulis: (Danu)

