Bekasi — LiputanHK.com.
Insiden berdarah terjadi di salah satu tempat hiburan malam kawasan BTC Bulak Kapal, Bekasi, bernama The Rome. Seorang pengunjung harus mengalami luka di bagian perut setelah cekcok dengan seorang tamu yang dengan lantang menyebut dirinya sebagai anggota DPR RI. Ironisnya, pihak keamanan atau bodyguard The Rome justru diduga tidak netral dan malah berpihak pada oknum yang mengaku pejabat tersebut.
Menurut keterangan sejumlah saksi mata, peristiwa itu bermula saat oknum tersebut merasa tersinggung dan curiga, menuduh salah satu tamu tengah merekam dirinya di dalam lounge The Rome. Padahal, berdasarkan keterangan korban dan beberapa pengunjung lain, tidak ada niatan sedikit pun untuk memvideokan siapapun. Korban datang hanya untuk menikmati hiburan malam secara wajar dan tidak melakukan pelanggaran apa pun.
Namun, karena diduga takut keberadaannya di tempat hiburan itu terekspos ke publik, oknum yang mengaku anggota DPR tersebut bereaksi emosional dan memicu keributan. Situasi semakin memanas ketika pihak keamanan The Rome justru memihak pelaku dan menekan korban, bukan menengahi atau mengamankan kondisi sebagaimana tugas profesional mereka.
“Saya tidak melakukan perekaman apa pun. Saya hanya duduk menikmati musik. Tiba-tiba saya dituduh, lalu dikeroyok, sampai saya terluka di bagian perut,” ujar korban kepada LiputanHK.com dengan nada kecewa.
Korban juga meminta pihak manajemen The Rome untuk segera membuka rekaman CCTV yang ada di area lounge pada malam kejadian. Ia menegaskan bahwa rekaman CCTV akan membuktikan dirinya tidak bersalah dan tidak melakukan perekaman seperti yang dituduhkan.
“Kalau benar The Rome profesional, buka saja CCTV-nya. Di situ akan terlihat siapa yang mulai duluan dan siapa yang sebenarnya menyerang,” tambah korban.
Permintaan tersebut disampaikan karena hingga kini, belum ada langkah terbuka dari pihak manajemen The Rome untuk mengklarifikasi peristiwa ini ataupun menunjukkan bukti visual yang dapat menguatkan posisi korban. Publik pun mulai menyoroti transparansi dan tanggung jawab pihak club terhadap keamanan tamu yang seharusnya menjadi prioritas utama.
Sumber internal menyebut, oknum yang mengaku anggota DPR itu tampak panik dan ketakutan jika videonya berada di tempat hiburan malam tersebar di media sosial. Diduga, rasa takut akan aib itulah yang mendorongnya bertindak kasar dan menyerang pengunjung lain tanpa dasar yang jelas.
Kini publik mempertanyakan profesionalisme pihak keamanan The Rome yang seharusnya melindungi semua pengunjung tanpa pandang status sosial atau jabatan, bukan justru menjadi pelindung bagi pihak yang mengaku berkuasa.
Jika benar ada tindakan keberpihakan dan pembiaran terhadap kekerasan, maka hal ini mencoreng nama baik dunia hiburan malam di Bekasi. Club seperti The Rome semestinya menjadi tempat yang aman, bukan arena bagi oknum arogan yang berlindung di balik label “anggota DPR”.
Sampai berita ini diturunkan, manajemen The Rome belum memberikan keterangan resmi, sementara korban sudah menegaskan niatnya untuk melaporkan kejadian ini ke pihak kepolisian dan menuntut agar rekaman CCTV dibuka sebagai bukti hukum.
Keadilan bagi korban harus ditegakkan. Keamanan bukan alat kekuasaan, dan jabatan tidak boleh dijadikan tameng untuk menginjak martabat masyarakat sipil di ruang publik.
(Tik Redaksi LiputanHk.com)
