MAKASSAR – Jims Oktovianus, Kasi Patroli dan Operasi Kantor Pelayanan Utama Bea Cukai Soekarno-Hatta (Soetta), resmi meraih gelar Doktor Ilmu Hukum dari Universitas Hasanuddin (Unhas). Dalam sidang terbuka yang digelar di Fakultas Hukum Unhas pada Kamis (22/01/2026), Jims berhasil lulus dengan predikat Sangat Memuaskan.
Mantan Kasi Penindakan Kanwil Bea Cukai Sulbagsel ini mempertahankan disertasi yang cukup krusial bagi keuangan negara, yakni terkait penerapan asas ultimum remedium sebagai instrumen pemulihan kerugian pendapatan negara pada tindak pidana cukai.
Fokus pada Pemulihan Kerugian Pendapatan Negara, Bukan Sekadar Sanksi Penjara
Dalam paparannya di hadapan dewan penguji yang diketuai Prof. Dr. Hamzah Halim, Jims menekankan bahwa sanksi pidana dalam kasus cukai idealnya menjadi jalur terakhir (last resort). Menurutnya, asas ultimum remedium memiliki urgensi strategis untuk:
- Mendorong efisiensi penegakan hukum.
- Membangun kepatuhan sukarela dari pelaku usaha.
- Menjaga iklim investasi agar tetap kondusif.
- Mencegah terjadinya kriminalisasi yang berlebihan.
“Asas ini memposisikan sanksi pidana sebagai upaya pamungkas setelah langkah-langkah administratif dinilai tidak lagi mencukupi,” jelas Jims. Ia berharap hasil penelitian ini dapat menjadi referensi dalam penguatan penegakan hukum cukai di masa depan.

Perjalanan Akademik di Sela Kesibukan Tugas
Meski disibukkan dengan tanggung jawab besar di Bea Cukai Soetta, Jims mampu menyelesaikan studi doktoralnya dalam waktu 3,5 tahun dengan IPK nyaris sempurna, yakni 3,95.
Ketua sidang, Prof. Hamzah Halim, sempat melontarkan apresiasi sekaligus kelakar mengenai masa studi Jims. “Seharusnya beliau bisa lulus cumlaude. Namun karena dinamika tugas, termasuk mutasi dari Makassar ke Jakarta, prosesnya menjadi tiga setengah tahun. Ini adalah dedikasi yang luar biasa di tengah pengabdian pada negara,” ungkapnya.
Pesan “Ilmu Padi” dari Promotor
Senada dengan itu, Prof. Dr. Muhadar selaku promotor berpesan agar gelar tertinggi akademik ini tidak membuat Jims berpuas diri. Ia mengingatkan pentingnya kerendahan hati dalam mengemban ilmu.
“Ingat filosofi ilmu padi, semakin berisi semakin merunduk. Jangan sombong, karena pemimpin yang sesungguhnya adalah mereka yang mampu memberikan keteladanan,” pesan Prof. Muhadar kepada doktor baru tersebut. [bisot]
