Benteng Perlindungan Publik: PWI dan AFPI Perkuat Kapasitas Jurnalisme Hadapi Era Fintek
- calendar_month 10 jam yang lalu
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
JAKARTA — Di balik layar ponsel cerdas jutaan rakyat Indonesia, akses keuangan kini hadir hanya dalam hitungan detik. Cukup beberapa kali ketukan layar, dana segar mengalir. Namun, di balik kemudahan yang ditawarkan teknologi finansial ini, bayang-bayang misinformasi, jebakan bunga tak masuk akal, hingga teror entitas bodong terus mengintai warga yang minim literasi.
Sadar akan besarnya ancaman tersebut, sebuah ruang pertemuan di Hotel Aryaduta Jakarta berubah menjadi kawah candradimuka bagi para insan pers. Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Pusat bergandengan tangan dengan Asosiasi Fintech Pendanaan Bersama Indonesia (AFPI) menggelar Workshop Jurnalistik bertajuk “Pindar Untuk Inklusi Keuangan, Jurnalisme Untuk Perlindungan Publik”.
Sejak pagi hari, puluhan jurnalis dari berbagai media massa berkumpul. Ruangan dipenuhi diskusi hangat, paparan data yang membuka mata, serta pertukaran pandangan mengenai realitas industri Pendanaan Bersama Berbasis Teknologi Informasi (Pindar).
“Perkembangan sektor keuangan digital ini melompat begitu cepat. Jika insan pers tidak dibekali kompetensi yang mumpuni, berita yang dihasilkan bisa saja keliru atau bahkan membingungkan publik. Jurnalisme hari ini harus hadir sebagai alat edukasi dan perlindungan,” ujar Sekretaris Jenderal PWI Pusat, Marthen Selamet Susanto, di tengah jalannya kegiatan.
Mengurai Kompleksitas Fintek melalui Lensa Edukatif
Selama tujuh jam nonstop, para peserta diajak membedah anatomi industri pendanaan digital secara mendalam. Pelatihan ini dirancang bukan sekadar sebagai forum berbagi informasi biasa, melainkan laboratorium berpikir kritis untuk memperkuat fungsi kontrol sosial media.
Ada tiga pilar utama yang menjadi perhatian dalam forum tersebut:
-
Membedakan yang Legal dan Ilegal: Jurnalis dibekali kriteria presisi untuk mengidentifikasi penyelenggara pendanaan berbasis teknologi yang terdaftar dan berizin, sehingga publik mendapat panduan terpercaya saat memilih layanan keuangan.
-
Penyampaian Informasi yang Berimbang: Media diajak meliput industri fintek secara objektif—mengapresiasi perannya dalam mendorong inklusi keuangan nasional, namun tetap kritis terhadap potensi risiko dan pelanggaran hak konsumen.
-
Mencegah Misinformasi Massal: Di tengah serbuan kabar burung dan tawaran pinjaman bodong di media sosial, pemberitaan pers yang akurat disiapkan menjadi filter utama penghalau berita bohong.
Sinergi demi Ekosistem Digital yang Sehat
Kolaborasi antara PWI dan AFPI ini menjadi cerminan komitmen bersama dalam membangun iklim ekonomi digital yang sehat, transparan, dan berkelanjutan. Kepercayaan publik (public trust) adalah pondasi utama dalam ekosistem fintech, dan kepercayaan itu hanya bisa dirawat apabila masyarakat mendapatkan edukasi yang jujur dari pers.
Melalui workshop deskriptif ini, PWI Pusat dan AFPI kembali menegaskan tekadnya. Pena dan ketikan jurnalis diharapkan tak lagi sebatas melaporkan angka-angka pertumbuhan ekonomi, tetapi benar-benar hadir menjadi panduan, edukator, sekaligus pelindung bagi masyarakat luas di tengah derasnya arus transformasi digital.
- Penulis: Redaksi
