Breaking News
light_mode
Populer

Badai Suara Sumbang di Tirta Bhagasasi: Ketika Bisikan Pimpinan Memaksa Pena Pegawai Tergores

  • calendar_month Jumat, 7 Agt 2026
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Bagikan:

BEKASI — Lorong-lorong kantor Perumda Tirta Bhagasasi Bekasi belakangan ini tak lagi dihiasi gemericik pembahasan pelayanan air bersih. Keheningan kerja di perusahaan daerah tersebut justru terusik oleh gesekan panas konflik internal. Polemik mosi tidak percaya yang ditujukan kepada sang Direktur Umum kini menggelinding liar, menyisakan keresahan mendalam di benak para pegawai kecil yang terjepit di antara pusaran kepentingan para atasan.

Alih-alih murni aspirasi dari dasar hati, pengakuan dari akar rumput justru mengungkap tabir yang meresahkan. Sejumlah pegawai mengaku terpaksa menggoreskan tanda tangan pada lembar mosi tersebut. Bukan karena benci atau kecewa, melainkan lantaran tak berdaya menolak instruksi dan dugaan intimidasi dari sang pimpinan.

Seorang pegawai cabang, yang memohon agar namanya diselimuti kerahasiaan, mengeluhkan posisinya yang dilematis. Pria ini sejatinya hanya ingin mencari nafkah dengan tenang tanpa terseret arus perselisihan para pejabat atas.

“Sebenarnya saya tidak mau tanda tangan, Bang. Cuma karena disuruh pimpinan, mau tidak mau saya ikut tanda tangan. Saya tidak mau ikut-ikutan urusan pimpinan, maunya kerja saja. Saya takut melanggar Perdir Kepegawaian,” tuturnya liris.

Cerita serupa bergema dari lingkungan Kantor Pusat Perumda Tirta Bhagasasi. Seorang pegawai lainnya—yang juga anak tokoh terpandang di Kabupaten Bekasi—sempat melayangkan penolakan keras. Namun pertahanannya runtuh ketika ia didatangi secara khusus oleh oknum Kepala Subbagian bersama seorang staf. Sambil menyodorkan berkas mosi terhadap Direktur Umum, oknum tersebut mendesaknya berulang kali dengan dalih dokumen itu akan langsung disodorkan ke meja Menteri Dalam Negeri.

Ancaman Stabilitas dan Pelanggaran Aturan

Merekapitulasi suara-suara tertekan dari balik tembok perusahaan, Purnabakti Perumda Tirta Bhagasasi Bekasi, Bambang Okie Triantoro, akhirnya angkat bicara pada Rabu (5/8/2026). Ia menilai jika mobilisasi paksa ini benar terjadi, maka telah terjadi preseden buruk yang sanggup meruntuhkan fondasi perusahaan dan mengorbankan masyarakat luas sebagai pelanggan.

Bambang menegaskan bahwa penyampaian kritik terhadap jajaran direksi adalah hak sah setiap insan perusahaan, namun cara yang ditempuh wajib berada di atas koridor hukum yang benar melalui Direktur Utama atau Dewan Pengawas.

Tindakan mengerahkan massa atau memprovokasi pegawai justru bertentangan keras dengan Peraturan Direksi Nomor 2 Tahun 2024 tentang Kepegawaian:

  • Pasal 14: Mengharuskan setiap pegawai mematuhi tata tertib, merawat iklim kerja kondusif, dan menjaga marwah perusahaan.

  • Pasal 15: Melarang keras gerakan yang mencoreng citra pemerintah daerah, memprovokasi massa, serta menghasut pegawai lain untuk menentang kebijakan secara tidak sah.

  • Pasal 17: Mematok sanksi tegas, di mana tindakan menghasut dan memicu penolakan massal dikategorikan sebagai pelanggaran berat.

Pembiaran Spanduk dan Urgensi Penyelidikan SPI

Tak hanya mengecam dugaan intimidasi, Bambang juga menyentil pembiaran yang dilakukan pihak manajemen. Bentangan spanduk mosi tidak percaya yang dibiarkan terpajang bebas di lingkungan kantor selama berminggu-minggu dinilainya sebagai wujud pembiaran yang merusak citra perusahaan di mata publik.

Guna mengakhiri kegaduhan yang kian membakar suasana kerja, Bambang mendesak Direktur Utama untuk segera mengambil tindakan tegas dan simpatik:

  1. Membuka Ruang Dialog: Direktur Utama harus segera menggelar mediasi persuasif untuk menyerap aspirasi pegawai secara langsung dan menertibkan spanduk-spanduk liar di area kantor.

  2. Pemeriksaan oleh SPI: Satuan Pengawasan Intern (SPI) wajib diberi surat tugas khusus untuk mengusut tuntas siapa dalang atau aktor intelektual di balik gerakan paksa ini.

“Semua dugaan harus dibuka secara terang. Jangan sampai muncul spekulasi yang memecah belah. Jika ada aktor intelektual di balik gerakan ini, harus diungkap berdasarkan fakta. Sebaliknya, jika tidak ada pelanggaran, jelaskan secara terbuka agar polemik ini tidak terus berlarut,” pungkas Bambang.


Bagikan:
  • Penulis: Redaksi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Operasional Bandara Halim Perdanakusuma Ditutup hingga Senin Pagi akibat Abu Vulkanik Anak Krakatau

    Operasional Bandara Halim Perdanakusuma Ditutup hingga Senin Pagi akibat Abu Vulkanik Anak Krakatau

    • calendar_month Minggu, 6 Sep 2026
    • 0Komentar
    Bagikan:

    Bagikan:JAKARTA — Operasional Bandara Halim Perdanakusuma, Jakarta Timur, kembali ditutup sementara hingga Senin (7/9/2026) pukul 08.59 WIB. Penutupan dilakukan sebagai langkah keselamatan penerbangan menyusul temuan sebaran abu vulkanik dari Gunung Anak Krakatau. General Manager Operasional Bandara Halim Perdanakusuma, Kolonel Pnb Ali Sudibyo, membenarkan adanya perpanjangan penutupan operasional tersebut. “Masih closed (operasional bandara masih ditutup) sampai […]


    Bagikan:
  • Langkah Strategis Jenderal Maruli Simanjuntak Memperkuat Kostrad dan Kepemimpinan TNI AD

    Langkah Strategis Jenderal Maruli Simanjuntak Memperkuat Kostrad dan Kepemimpinan TNI AD

    • calendar_month Jumat, 7 Agt 2026
    • 0Komentar
    Bagikan:

    Bagikan:JAKARTA — Di balik dinding megah Aula Jenderal Besar A.H. Nasution, Markas Besar Angkatan Darat (Mabesad), derap langkah dan komando tegas menggema pada Senin (3/8/2026). Suasana khidmat menyelimuti upacara penting yang dipimpin langsung oleh Kepala Staf Angkatan Darat (Kasad), Jenderal TNI Maruli Simanjuntak. Hari itu, TNI AD kembali menegaskan komitmennya untuk terus bersolek—memperkuat diri agar […]


    Bagikan:
  • Bentrokan Polisi dan Massa Pecah di Kolong Flyover Slipi, Gas Air Mata Ditembakkan

    Bentrokan Polisi dan Massa Pecah di Kolong Flyover Slipi, Gas Air Mata Ditembakkan

    • calendar_month Kamis, 27 Agt 2026
    • 0Komentar
    Bagikan:

    Bagikan:JAKARTA — Bentrokan antara aparat kepolisian dan massa aksi pecah di bawah Flyover Slipi, Pejompongan, Jakarta Pusat, Kamis (27/8/2026) malam. Kericuhan terjadi setelah aparat memukul mundur massa dari Jalan Pejompongan Raya ke arah Jalan Penjernihan. Berdasarkan pantauan di lokasi, polisi menembakkan gas air mata untuk membubarkan massa. Sejumlah peserta aksi kemudian terlihat berlarian menjauh dari […]


    Bagikan:
  • Korban Tolak Restorative Justice, Sidang Dugaan Pengeroyokan Anggota DPRD Kabupaten Bekasi Berlanjut

    Korban Tolak Restorative Justice, Sidang Dugaan Pengeroyokan Anggota DPRD Kabupaten Bekasi Berlanjut

    • calendar_month Kamis, 13 Agt 2026
    • 0Komentar
    Bagikan:

    Bagikan:LiputanHk.com,BEKASI – Sidang kedua perkara dugaan pengeroyokan yang menyeret anggota DPRD Kabupaten Bekasi berinisial NY kembali digelar di Pengadilan Negeri (PN) Cikarang, Rabu (12/8/2026). Sidang tersebut memasuki agenda Restorative Justice (RJ) atau upaya penyelesaian perkara melalui perdamaian. Namun, upaya tersebut tidak membuahkan kesepakatan setelah korban, Fendy, menyatakan menolak berdamai dan memilih agar perkara tetap diproses […]


    Bagikan:
  • Apakah Gempa Bumi Tanda Kiamat? Ini Penjelasan dalam Perspektif Islam dan Sains

    Apakah Gempa Bumi Tanda Kiamat? Ini Penjelasan dalam Perspektif Islam dan Sains

    • calendar_month Rabu, 26 Agt 2026
    • 0Komentar
    Bagikan:

    Bagikan:LiputanHk.com — Gempa bumi merupakan salah satu fenomena alam yang kerap menimbulkan kekhawatiran di tengah masyarakat. Selain karena dapat menyebabkan kerusakan dan korban jiwa, gempa juga sering dikaitkan dengan tanda-tanda datangnya Hari Kiamat. Lantas, apakah setiap gempa bumi merupakan tanda Kiamat? Dalam perspektif Islam, banyaknya gempa bumi memang disebut dalam hadis Nabi Muhammad SAW sebagai […]


    Bagikan:
  • Dirut BUMDes Kedung Jaya Sebut 14 Kambing Dititipkan, 63 Ekor Belum Dibayar Mitra, Warga Pertanyakan Tata Kelola dan Akuntabilitas

    Dirut BUMDes Kedung Jaya Sebut 14 Kambing Dititipkan, 63 Ekor Belum Dibayar Mitra, Warga Pertanyakan Tata Kelola dan Akuntabilitas

    • calendar_month Selasa, 1 Sep 2026
    • 0Komentar
    Bagikan:

    Bagikan:BEKASI — Pernyataan Direktur Utama (Dirut) BUMDes Kedung Jaya Erwin Mahendra, dalam audiensi di aula kantor kepala desa Kedung Jaya pada Sabtu (29/8/2026), terkait pengelolaan usaha peternakan justru memunculkan sejumlah pertanyaan baru dari masyarakat. Dalam pemaparannya, Dirut BUMDes Kedung Jaya menyebut masih terdapat 14 ekor kambing yang menjadi bagian dari usaha BUMDes. Namun, kambing tersebut […]


    Bagikan:
expand_less