Abu Vulkanik Gunung Anak Krakatau Terdeteksi di Jakarta, BPBD Imbau Warga Jangan Bersihkan dalam Kondisi Kering
- calendar_month 4 jam yang lalu
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
JAKARTA — Abu vulkanik dari aktivitas Gunung Anak Krakatau terdeteksi hingga sejumlah wilayah DKI Jakarta. Masyarakat diminta meningkatkan kewaspadaan dan tidak sembarangan membersihkan endapan abu yang berada di lingkungan rumah maupun fasilitas umum.
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) DKI Jakarta mengimbau warga untuk membasahi abu vulkanik terlebih dahulu sebelum membersihkannya. Cara tersebut dilakukan untuk mencegah partikel abu kembali beterbangan dan berpotensi terhirup.
Kepala Pelaksana BPBD DKI Jakarta, Marulitua Sijabat, mengatakan abu vulkanik memiliki karakter berbeda dengan debu biasa karena partikelnya sangat halus.
“Menyapu atau meniup abu dalam kondisi kering dapat membuat partikelnya kembali beterbangan dan terhirup. Penggunaan masker dan pelindung mata juga dianjurkan saat membersihkan endapan abu,” kata Marulitua dalam keterangannya, Minggu (6/9/2026).
Paparan abu vulkanik dapat mengganggu kesehatan, terutama pada saluran pernapasan, mata, dan kulit. Risiko tersebut perlu menjadi perhatian, khususnya bagi kelompok masyarakat yang lebih rentan.
BPBD DKI Jakarta mengingatkan masyarakat agar tidak panik. Warga diminta tetap tenang, meningkatkan kewaspadaan, serta mengikuti perkembangan situasi melalui kanal resmi pemerintah.
“Yang paling penting, masyarakat tidak perlu panik. Tetap tenang, tetapi tingkatkan kewaspadaan dan ikuti informasi resmi dari pemerintah,” ujarnya.
BPBD juga mengimbau masyarakat menggunakan masker apabila harus beraktivitas di luar rumah. Masker kain biasa dinilai kurang optimal untuk menyaring partikel abu vulkanik.
Untuk mengurangi paparan abu vulkanik di dalam rumah, warga disarankan menutup pintu, jendela, dan ventilasi selama kondisi udara di sekitar rumah terdampak.
Kipas angin atau pendingin ruangan yang menarik udara dari luar juga dianjurkan dimatikan apabila berpotensi memasukkan udara yang mengandung abu vulkanik ke dalam rumah.
Aktivitas di Luar Rumah Sebaiknya Dikurangi
Masyarakat juga diminta mengurangi aktivitas di luar rumah, terutama ketika kondisi udara mengalami penurunan akibat paparan abu vulkanik.
Kelompok rentan seperti bayi, anak-anak, lanjut usia, ibu hamil, serta masyarakat dengan asma, penyakit paru, atau penyakit jantung perlu mendapatkan perhatian lebih untuk menghindari paparan.
Selain melindungi saluran pernapasan, masyarakat juga diminta menjaga kebersihan makanan dan air.
“Masyarakat juga diminta melindungi makanan, air minum, dan tempat penampungan air dari paparan abu vulkanik,” tutur Marulitua.
Cara Aman Membersihkan Abu Vulkanik
Untuk mencegah abu kembali beterbangan, warga sebaiknya tidak menyapu atau meniup endapan abu ketika kondisinya masih kering.
Abu terlebih dahulu dapat dibasahi, kemudian dibersihkan dengan hati-hati menggunakan perlengkapan pelindung seperti masker dan pelindung mata.
Langkah sederhana tersebut penting untuk mengurangi kemungkinan partikel abu masuk ke saluran pernapasan maupun mengenai mata dan kulit.
Masyarakat yang mengalami sesak napas berat, nyeri dada, batuk terus-menerus, atau iritasi mata yang semakin parah diminta segera mencari pertolongan medis di fasilitas kesehatan.
Khusus untuk kondisi darurat di wilayah DKI Jakarta, masyarakat dapat menghubungi layanan Jakarta Siaga melalui nomor 112.
BPBD DKI Jakarta kembali mengingatkan masyarakat untuk tetap tenang dan tidak mudah panik. Dengan menggunakan pelindung, mengurangi aktivitas di luar rumah, menjaga makanan dan air, serta membersihkan abu dalam kondisi basah, risiko paparan abu vulkanik dapat diminimalkan.
Masyarakat juga diimbau terus memantau informasi terbaru mengenai aktivitas Gunung Anak Krakatau dan kondisi abu vulkanik melalui kanal resmi pemerintah.
- Penulis: LiputanHK admin
