Babeh Damin Sada: Porprov Jangan Beli Atlet, Bekasi Punya Jati Diri!
- calendar_month 20 jam yang lalu
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
BEKASI – Menjelang pelaksanaan Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) Jawa Barat yang akan digelar di Kota Bekasi, Ketua Umum Jawara Jaga Kampung (Jajaka) sekaligus tokoh masyarakat Betawi, Babeh Damin Sada, menyampaikan sejumlah pesan dan catatan kritis.
Melalui sebuah video pribadinya, Babeh Damin Sada menyambut gembira pelaksanaan pesta olahraga tingkat provinsi tersebut. Namun, ia mengingatkan agar penyelenggaraan Porprov tidak sekadar mengejar prestasi dan gelar juara umum, tetapi juga harus menjaga sportivitas serta identitas budaya lokal.
Ada tiga catatan yang disampaikan Babeh Damin Sada.
Pertama, soal atlet dan sportivitas.
Ia mengingatkan agar Kota Bekasi tidak membeli atau mendatangkan atlet dari luar daerah hanya demi memaksakan diri meraih gelar juara umum. Bahkan, ia menyinggung praktik suap terhadap wasit yang menurutnya harus dihindari.
“Jangan sampai demi menjadi juara umum, kita menghalalkan segala cara. Sportivitas harus menjadi harga mati,” demikian pesan yang disampaikan dalam video tersebut.
Kedua, soal budaya Betawi.
Babeh Damin Sada meminta agar kepanitiaan Porprov turut mengangkat adat istiadat dan budaya Betawi sebagai identitas masyarakat Bekasi.
Menurutnya, Bekasi memiliki akar budaya Betawi sehingga tidak perlu terlalu jauh mengambil simbol budaya dari daerah lain untuk memeriahkan kegiatan.
Ia bahkan menyinggung penggunaan delman dari Pakuan. Menurutnya, Bekasi sendiri sudah memiliki banyak delman yang bisa dimanfaatkan untuk arak-arakan.
Dalam gaya penyampaiannya yang satir, ia melontarkan analogi kontroversial terkait delman dari luar daerah yang dikaitkan dengan kekhawatiran masyarakat kehilangan identitas budayanya.
Ketiga, soal iket kepala putih.
Tak kalah menarik, Babeh Damin Sada juga menyampaikan sindiran mengenai penggunaan iket kepala putih.
Ia mengingatkan agar masyarakat tidak ikut-ikutan menggunakan simbol tersebut tanpa memahami maknanya. Bahkan, dengan gaya guyonan khasnya, ia mengibaratkan ikatan di kepala bisa mengganggu keleluasaan berpikir dan memandang masa depan.
Bagi Babeh Damin Sada, Porprov bukan semata-mata ajang pertandingan olahraga, melainkan juga momentum untuk menunjukkan karakter, kebudayaan, dan kehormatan daerah.
Pesannya sederhana: Bekasi boleh menjadi tuan rumah, boleh mengejar prestasi, tetapi jangan sampai kehilangan jati diri.
Jangan cuma sibuk mengejar juara, sampai lupa Bekasi punya budaya sendiri!
LiputanHK.com
- Penulis: Danu
